Menggali Awalan Kelas

 

Di awal semester ini saya mencoba menggali pengetahuan tentang para mahasiswa di kelas saya.  Pada pertemuan pertama, bahkan sebelum memberikan gambaran mengenai materi dan pelaksanaan kuliah, saya memberikan kuis singkat kepada mahasiswa.  Pertanyaan yang saya berikan tentunya bukan mengenai materi kuliah, namun lebih berat menanyakan apa yang telah mereka ketahui tentang kuliah yang mereka ambil, harapan mereka, serta rencana yang akan mereka kerjakan.

 

Hasil yang saya terima cukup mencengangkan.  Saya merekap jawaban para mahasiswa dan mendapatkan, lebih dari 90% mahasiswa tidak memiliki preview yang cukup mengenai perkuliahan.  Setelah kuis, saya menanyakan lebih lanjut apakah mereka cudah membaca buku panduan akademik, karena deskripsi mata kuliah telah tertulis disana.  Sebagian besar, dengan kompak, lantang dan percaya diri menjawab : BELUUUUMMM !! Hanya sedikit yang menjawab sudah.  Ada juga yang menjawab sudah baca, tapi lupaa. Saya hanya tersenyum mendengar jawaban polos ini.  Well, setidaknya mereka jujur kan ya

 learn1

Pertanyaan selanjutnya berkaitan dengan tujuan mereka mengambil mata kuliah dan apa yang mereka harapkan.  Sebagian besar menjawab dengan jawaban klise: ingin mempelajari lebih jauh tentang materi kuliah, ingin menerapkannya jika sudah bekerja,materi ini penting bagi seorang calon ahli pangan.. J Ada juga yang dengan gamblang menuliskan ingin mendapatkan nilai A, terpaksa mengambil karena ini mata kuliah wajib, memenuhi jumlah sks, karena ini prasyarat untuk lulus kuliah.. Hanya sebagian kecil yang memberikan jawaban yang jelas.  Ada seorang dua yang menjawab karena saya ingin punya usaha pangan sendiri. Wow.  Jika pernyataan ini diberikan dengan kesadaran penuh dan bukan karena klise, saya rasa mereka akan bersungguh-sungguh dan benar-benar dapat sukses mewujudkan cita-citanya.

 

Melanjutkan pertanyaan mengenai tujuan mereka mengambil mata kuliah, saya menanyakan usaha apa yang akan mereka lakukan.  Ini berkaitan dengan rencana belajar mereka.  Jawabannya nyaris sama, datang kuliah dengan rajin, banyak membaca buku dan literatur terkait, bertanya pada dosen atau ahlinya, mencari di internet, berdoa dan mendekatkan diri pada Allah, mengerjakan semua tugas serta mematuhi peraturan perkuliahan.  Sejauh ini masih belum ada usaha kreatif yang mengejutkan J

 

Setelah kelas ketiga (saya mengajar 4 kelas paralel), saya mencoba menggali lebih dalam dengan menambahkan satu pertanyaan lagi.  Bantuan apa yang anda perlukan untuk melaksanakan rencana anda.  Lagi-lagi jawabannya masih mirip.  Fasilitas memadai (tidak jelas fasilitas apa?), buku-buku dan referensi yang cukup, dosen dan teman-teman yang dapat menjadi sumber informasi, cara mengajar dosen dan slide kuliah yang menarik, akses internet, tugas-tugas yang memadai dari dosen, praktek secara langsung atau setidaknya ada kunjungan ke lapang, dimana ilmu ini diterapkan.  Untuk yang terakhir, saya sangat setuju, bahkan beberapa kali saya mencanangkan kegiatan seperti ini.

 

Kegiatan kunjungan lapang atau praktek langsung akan sangat berarti bagi peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap materi.  Namun selalu saja terdapat kendala yang membuat rencana tersebut tidak terlaksana. Kebanyakan kendala justru datang dari mahasiswa sendiri.  Ketika diperlukan kontribusi mahasiswa, justru mereka mundur.  Kontribusi yang saya maksud disini berupa partisipasi aktif dalam mengkoordinir, mencari informasi, dan segala sesuatu terkait akomodasi bagi anggota kelas.  Dan berakhir dengan ketakberdayaan saya, karena akhirnya para mahasiswa sendiri memutuskan untuk menyerah.

 

Semua jawaban yang telah saya baca sedikit banyak memberikan gambaran tentang kelas saya.  Secara umum, memang pengetahuan mahasiswa masih minim terkait mata kuliah yang mereka ambil.  Mungkin juga preview yang diberikan tidak cukup, kurang menarik, atau mereka kurang informasi mengenai pentingnya perencanaan.  Sebagian besar dari kita hingga dewasa memang demikian.  Apalagi dengan budaya ‘Timur’ yang cenderung untuk bersikap ‘neriman’, tidak mempertanyakan hal-hal yang esensial.  Cukup untuk mengikuti dan mematuhi aturan yang ada.  Akibatnya, dalam usaha pun seadanya.  Ini mungkin menjadi evaluasi bagi saya secara pribadi, dan mungkin bagi pendidikan tinggi secara umum.  Bagaimana membuat peserta didik mampu merencanakan.  Karena tanpa perencanaan dan pengetahuan yang cukup, maka segala usaha kemudian mungkin akan menjadi lebih berat.  Hasil yang didapat pun mungkin akan jauh dari harapan.

 

Sebuah tantangan yang cukup menarik memang, ketika para pendidik dan pengajar sendiri juga memiliki banyak keterbatasan.  Keterbatasan dalam persiapan, serta keterbatasan dalam hal pelaksanaan.  Banyaknya peserta didik atau diistilahkan dengan rasio mahasiswa dosen yang sangat tinggi menjadi faktor penentu tersendiri.  Akhirnya segala perbaikan sangat memerlukan dukungan kebijakan yang memadai dan usaha sistemik yang melibatkan semua pihak.  Meskipun demikian, mari terus berusaha meningkatkan dari apa yang bisa kita lakukan sekarang.

Categories: Kuliah | Leave a comment

Kuliah MMRP mt-8

Salah satu piranti yang sangat penting dalam pengendalian mutu di perusahaan adalah penggunaan statistika.  Seringkali disebut juga sebagai Statistical Quality Control (SQC), karena intensifnya penggunaan statistika dalam program tersebut.  Sebelum mendalami lebih lanjut mengenai SQC sendiri, akan lebih baik untuk memahami dan mengingat kembali dasar-dasar statistika  yang akan sangat membantu untuk penerapan baik pada studi kasus maupun di dunia kerja kelak.

Secara umum terdapat empat distribusi data yang mendasari SQC, yaitu : Binomial, Poisson dan Studi-t.  Umumnya, pada jenis-jenis distribusi data tersebut perlu diketahui konsep ukuran central tendency (bentuk kurva) dan ukuran dispersi atau sebaran data.  Sebagai bahan pengaya, berikut rangkuman materi review statistika untuk Kuliah Manajemen Mutu dan Regulasi Pangan.  Untuk Pertemuan ini, silahkan dikerjakan juga tugas berikut sebagai bahan catatan bagi Anda.

Tgs MMRP-13-klas

MMR13-08-Statistical Review

Categories: Kuliah | Leave a comment

Briefing Asisten Praktikum Teknologi Pengolahan Pangan

Praktikum Teknologi Pengolahan Pangan akan diselenggarakan semester Ganjil 2013-2014 ini dimulai tanggal 9 September 2013.

Untuk memperlancar jalannya praktikum, maka asisten telah diseleksi dan dipersiapkan.

Berikut ini materi pada acara Briefing Asisten Praktikum Teknologi Pengolahan Pangan.  Materi ini sebagai pedoman untuk pelaksanaan praktikum, yang mencakup tugas dan tanggung jawab asisten serta jadwal materi praktikum.

Materi dapat diunduh pada file ppt berikut.Briefing Asisten Prak TekPeng 2013

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Jagung, si tampan kaya manfaat

Siapa yang tidak kenal jagung? Tanaman pangan ini salah satu tanaman pangan terpenting di dunia setelah padi dan gandum.  Berbagai negara di dunia menjadikan jagung sebagai sumber karbohidrat utama seperti di Amerika Tengah dan Selatan.  Sedangkan di Amerika Serikat juga menjadikan jagung sebagai sumber pangan alternatif.  Di Indonesia sendiri, beberapa daerah seperti Madura dan Nusa Tenggara mengkonsumsi jagung sebagai sumber pangan utama.

Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari jagung selain sebagai sumber karbohidrat.  Pemanfaatan untuk pakan ternak, baik sebagai hijauan maupun bagian tongkolnya telah dilakukan.  Pada industri pangan, bulir jagung digunakan sebagai sumber minyak, tepung jagung atau dikenal dengan tepung maizena, serta merupakan bahan baku industri.  Berbagai olahan jagung dihasilkan dari jagung sebagai produk siap dikonsumsi, seperti mie, kue, dan susu jagung.  Pada tingkat industri tersier, seperti pembuatan furfural, tongkol jagung yang kaya pentosa dimanfaatkan sebagai bahan baku utama.  Adanya teknologi rekayasa genetika saat ini, telah menjadikan pula jagung sebagai penghasil bahan farmasi.

jagung manis5

http://tiportips.blogspot.com/2013/05/Tips-Cara-Membuat-Tepung-Jagung-Dengan-Mudah.html

Salah satu manfaat utama untuk pemanfaatan jagung dalam industri pangan yaitu dengan mengolahnya menjadi tepung jagung.  Pembuatan tepung jagung memiliki keunggulan dibandingkan bentuk jagung segar atau produk setengah jadi lainnya.  Keunggulan tersebut antara lain lebih tahan lama disimpan, memudahkan formulasi karena mudah untuk dicampurkan dalam adonan, dapat dilakukan fortifikasi (pengayaan zat gizi), lebih praktis karena siap pakai, dan mudah untuk dilakukan proses pengolahan selanjutnya.

Proses pembuatan tepung jagung meliputi tahapan persiapan, dan tahapan utamanya adalah penggilingan dan pengayakan.  Seluruh tahapan dalam proses produksi tepung jagung harus dilakukan dengan tepat serta menerapkan prinsip hygiene dan sanitasi agar tepung yang dihasilkan berkualitas baik dan aman untuk dikonsumsi.

Berikut tahap-tahap pembuatan tepung jagung.

1. Tahap persiapan

Pada tahap ini, biji jagung dipisahkan dari tongkolnya, atau disebut juga proses pemipilan.  Pipilan jagung kemudian dibersihkan dan dikeringkan selama 1-2 jam pada suhu 50oC.

2. Pembuatan beras jagung

Biji jagung yang sudah kering kemudian digiling sehingga terpisahlah kulit ari, lembaga dan endosperm. Pemisahan dilakukan dengan pengayakan menggunakan ayakan berukuran 1,4mm.  Bagian yang lolos dari ayakan disebut sebagai fraksi dedak, sedangkan bagian yang tertinggal pada ayakan adalah fraksi beras. Fraksi beras ini selanjutnya dikeringkan hingga mencapai kadar air 15-18%.

3. Penepungan Kering

Penepungan kering merupakan metode yang lebih sederhana dalam pembuatan tepung jagung.  Pada metode ini tidak ada pemisahan lembaga sehingga akan terikut pada tepung yang dihasilkan.  Pada tahap awak dilakukan pengayakan dengan ayakan berukuran 50 mesh.  Setelah itu, tepung dikeringanginkan dan selanjutnya diayak menggunakan ayakan bertingkat.  Dengan demikian akan dihasilkan butir halus, tepung kasar, tepung agak kasar, hingga tepung halus.

Beberapa penelitian mengungkapkan, tanpa pemisahan lembaga maka tepung jagung yang dihasilkan memiliki kadar lemak yang cukup tinggi (7.33%).  Tingginya kadar lemak ini akan mempengaruhi daya simpan produk karena proses oksidasi lemak lebih rentan terjadi dan mengakibatkan ketengikan produk.

4.  Penepungan Basah

Penepungan basah dapat dilakukan dengan perendaman beras jagung dalam air selama 24 jam.  Setalah itu, beras jagung ditiriskan, dijemur hingga kering dan kemudian digiling untuk menghasilkan tepung jagung.  Hasil penggilingan dilanjutkan ke proses pengayakan dengan ayakan berukuran 60 mesh.  Setelah itu, tepung yang dihasilkan dijemur kembali untuk menurunkan kadar airnya.  Proses penepungan dengan metode ini relatif mudah dan juga tidak memakan biaya tinggi, karenanya sangat tepat diterapkan pada industri kecil di pedesaan.

Penepungan juga dapat dilakukan dengan perendaman beras jagung dalam air kapur.  Kelebihan metode ini dibanding metode lainnya diperoleh dari penghilangan perikarp selama proses perendaman.  Tepung yang dihasilkan juga memiliki jumlah mikroba yang lebih rendah, tekstur, aroma dan warna yang lebih baik, serta umur simpan yang lebih panjang.  Perendaman dalam air kapur 5% selama 24 jam terhadap biji jagung memegang peranan penting dalam metode ini.  Tahap selanjutnya sama dengan metode perendaman dalam air, yaitu penggilingan, pengayakan dan penjemuran.

5. Pengemasan

Tepung jagung yang sudah jadi dapat dikemas dengan kemasan plastik yang tahan kelembaban dan minyak.  Ukuran pengemas dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari 1 kg, 5 kg, dan 10 kg.  Untuk volume tepung yang lebih besar, misalnya 25 kg, 50 kg dan 100 kg, dapat digunakan kemasan karung goni maupun karung dari kain.

1630153_tepung

http://indonetwork.co.id/bimasaktimalang/1630153/tepung-jagung.htm

Referensi:

http://jateng.litbang.deptan.go.id/ind/images/Publikasi/artikel/tepungjagung.pdf

http://tiportips.blogspot.com/2013/05/Tips-Cara-Membuat-Tepung-Jagung-Dengan-Mudah.html

http://bpij.gorontaloprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=298:pembuatan-tepung-jagung&catid=89:buah-jagung

http://www.pasarjagung.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung

 

Categories: Food & Novelties | Tags: , , | 1 Comment

Protein — The Benefit to Human Body

Proteins comprise the complex muscle system and the connective tissue network, and they are important as carriers in the blood system. All enzymes are proteins; enzymes are important as catalysts for many reactions (both desirable and undesirable) in foods.

When we eat foods that contain protein, the body breaks it down into amino acids. These amino acids are necessary for building muscle and blood. There are 22 amino acids, which are divided into two categories, including essential amino acids and non-essential amino acids. The body can make some of the essential acids on it’s own, but certain amino acids must come from eating foods containing protein.

 

Adequate protein consumption

nutritionally balanced diet provides adequate protein, and a vegetarian diet can provide the proper combination of plant proteins to achieve this.

Two to three servings of protein-rich food supplies the daily needs of most adults, depending upon age, medical conditions, and the type of diet employed. Select lean meat, poultry without skin, fish, dry beans, lentils, and legumes often, as these are the protein choices lowest in fat content.

To get the proper health benefits of protein, most people need about 0.8 grams of protein per kilogram of body weight each day. When additional demands are made on the body, such as in pregnancy or while recovering from an injury, more protein is needed to help the body. Children and teenagers also need additional protein to help with growth.

 

Food Sources of Protein

fish protein

If the protein in a food supplies enough of the essential amino acids, it is called a complete protein; if not, it is an incomplete protein.

The protein content of cooked meat and dairy products is from 15% to 40%, and that of cooked cereals, beans, lentils, and peas only from 3% to 10%.

Animal dietary protein sources

All meat and other animal products are sources of complete protein. For example:

  • beef, lamb, pork
  • poultry, eggs
  • fish, shellfish
  • milk and milk products

Vegetable dietary protein sources

Plant foods contain the same amino acids as animal foods, but in differing amounts. Protein in foods such as most grains, fruits, and vegetables are considered incomplete proteins, being either low in, or lacking, one of the essential amino acids.

lentils

Plant protein sources can be combined with other plant or animal products to form a complete protein; eg rice and beans, milk and wheat cereal, corn and beans. Plant foods considered complete proteins:

  • Nuts
  • Soy foods (tofu, tempeh, miso, and soy milk)
  • Sprouted seeds (each type of sprout differs in nutrient proportions, so eat a variety)
  • Grains (especially amaranth and quinoa, highest in protein)
  • Beans and legumes (especially when eaten raw)
  • Spirulina and chorella or blue-green algae (over 60% protein)

Protein consumption in Indonesia is considered low — although the sources are in fact abundant.  An action called “Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan” has been proposed to provide leverage on the protein consumption, especially for children.  This action is initiated by a local food industry by launching its product brand called Enjoy Seafood.  The brand provides a wide range of product variety, consisting 21 types of product item.

References

Vaclavik, V.A. & E.W. Christian. 2008.  Essentials of Food Science. 3rd edition.  Springer.

More information, please visit :

http://www.everydiet.org/999/protein-benefits

http://www.wisegeek.com/what-are-the-health-benefits-of-protein.htm

http://www.streetdirectory.com/travel_guide/3960/health/5_ways_to_make_protein_benefit_you.html

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2892253629644.2120993.1359372392&type=3

http://www.facebook.com/notes/indria-p-yamani/manfaat-makan-ikan-untuk-kesehatan/2901068250004

Categories: Food & Novelties | 1 Comment

Food Security in Indonesia

Food is always be an important topic to discuss in its relationship with human existence as it is one of the basic need to live.  Fulfilling the need for food has also been a parameter of how well-developed a country is.

(www.birumuda.co.cc/2011/02/makanan-pokok.html)

“Food security” is defined as a state of affairs where all people at all times have access to safe and nutritious food to maintain a healthy and active life (FAO).

There are three dimensions of Food security, namely Availability, Accessibility and Affordability.

In Indonesia, food security has been connected with the availability, accessibility and affordability of major food staple such as rice, maize, palm oil, sugar and soy bean.   The former food staple has been the prime food consumed by Indonesian people. For decades, Indonesia has been one of the largest rice-consuming country and hence leading the country to extremely dependent to rice production.

(lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/04/28/saya-makan-nasi-karena-saya-orang-indonesia/)

This fact has been quite irritating since Indonesia has an enormous number of different biological species of both flora and fauna, enabling the country to explore and utilize its natural resources for food.  Apart from the policy implementation, financial condition, unbalance supply and other constrains, diversification of food staple offers a great solution to overcome the food insecurity in Indonesia.  Not only supporting food security in Indonesia, novel food or product development based on the existing and unexplored local resources will provide significantly added value and improvement of the people’s quality of life.  Food scientists and food technologists bear the most responsibility for realization of this idea.  However, awareness of the society and government support should also be provided in order to ensure the success and effectiveness of implementing the solution.

 

 

References

1) Suryana, Achmad. 2008. SUSTAINABLE FOOD SECURITY DEVELOPMENT IN INDONESIA : POLICIES AND ITS IMPLEMENTATIONhttp://www.unescap.org/LDCCU/Meetings/HighLevel-RPD-food-fuel-crisis/Paper-Presentations/C2-FoodSecurity/ASuryana-DOA-Indonesia-FoodSecurity.pdf

2) Sutrisno, Noer. 1998. Food Security in Indonesia: Short Run and The Long Run http://www.smecda.com/deputi7/file_makalah/FOOD%20SECURITY%20IN%20INDONESIA.pdf

 

3) Timmer, P., 2004. Food Security in Indonesia: Current Challenges and the Long-Run Outlook.

http://www.cgdev.org/content/publications/detail/2740

further reading material for Food security status and categories in Indonesia, please refer to:

4) WHO.2007. Executive Brief: Indonesia Food Security Assessment and Classification

http://www.ipcinfo.org/attachments/Ex_Brief_Indonesia_IPC_March_2007.pdf

Categories: Food & Novelties | Leave a comment

Another e-book for students

A Manual for Biochemistry Protocols

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Breadnut & Rawon Sustainability

Rawon.  One of the favorite food in East Java. It is a kind of thin soup, contains beef with its typical dark brownish black color.  Very rich tasting traditional food, the soup is made of ground spices cooked with some oil untill the aroma comes out.  The spices then put into boiled stock and added with lemongrass,  gallangal, lemon leaves and some sugar along with the bite-sized beef.  The soup is commonly served with rice and completed with small bean sprouts, leek, chips, and sambal.

The very tasty rawon and its typical appearance is mainly contributed by the prime spice keluak or bread nut.  Breadnut (Pangeum edule) has oblong, very spiny fruits with little pulp and numerous large, lightbrown seeds and large, shallowly dissected leaves with 4–6 pairs of lobes.  There are many uses of this type of nut, some of them are : as staple food, as antiseptic, as anti-lice in buffalo, as coconut oil substitute.  Meanwhile, its leave can also be used as helminthic, and the trunk can be processed into matches.

Apart from the many functions of the fruits and its utilization, not everyone has knowledge of this wildly cultivated crop.  This circumstance comes into my consideration, if the nut becomes rare and extinct, then rawon- the food with breadnut as its prime spice- shall probably be extinct, too.  People of East Java will probably loose this favorite special food as well.  I was just thinking…perhaps there’s something we should do to keep the breadnut productivity and cultivation.

 

Read more about rawon :

www.indonesianfoodonline.com/recipes/black-beef-soup-rawon-rice

You can find the recipe here:

www.asianhomerecipe.com/recipecorner/submission/rawon-daging-sapi.php
http://resep.recipesmaster.com/rawon.html#ixzz1iZ8UlA7e

 

 

Read more about kluwak :

http://1.bp.blogspot.com/_ecouiUdoRpk/TTz1ApFoSBI/AAAAAAAAAiA/2Afun-2sPU8/s1600/Kepayang%2BBiji.JPG 

http://yellashakti.wordpress.com/2008/10/02/sekilas-cerita-tentang-kluwak/

 

http://scialert.net/fulltext/?doi=ijp.2009.285.297#ab

 

Categories: Food & Novelties | 6 Comments

Find out your Learning Style !

Everyone is unique.  The way people learn, communicate or behave to certain situation is somewhat different from one another.  Some people finds it easier to process information by seeing and looking at pictures or diagrams, some finds it easier to listen to the instructor, while other needs to be active and take frequent breaks.

By recognizing and understanding your own learning styles, you can use techniques better suited to you. This improves the speed and quality of your learning.

The learning styles have been discussed and developed into different models.  Here are some learning style models that may be useful and provide some information for your thoughts.

 

Felder &  Silverman’s  Learning style

According to this model, there are five dimensions classifying the students according to where they fit on a number of scales pertaining to the ways they receive and process information.  These dimensions are:

  1. Type of  information the student preferentially perceive: sensory or intuitive
  2. Sensory channel for information processing: visual or auditory
  3. Organization of information: inductive-facts or deductive principles
  4. The way to process information: actively or reflectively
  5. Progress toward understanding: sequentially or globally
Read  more of this Learning style
http://www4.ncsu.edu/unity/lockers/users/f/felder/public/Learning_Styles.html

You can find out which type of learner you are by taking the test.

Take the test here

http://www.engr.ncsu.edu/learningstyles/ilsweb.html

See the result here

http://www4.ncsu.edu/unity/lockers/users/f/felder/public/ILSdir/styles.htm

 

The V-A-K Model

Another popular model is the V-A-K Model.  This comprises of 3 types of learning style, the visual, auditory and kinesthetic.

Read more

http://people.usd.edu/~bwjames/tut/learning-style/styleres.html

 

Other learning style

Other Learning Style Models are also available.

http://www.learning-styles-online.com

 

 

 

 

Categories: Intrapersonal | 18 Comments

kontrak kuliah Sanitasi

 

 

File kontrak kuliah Sanitasi dan Keamanan Pangan dapat di download disini

kontrak kuliah Sanitasi 2011

 

Categories: Uncategorized | 1 Comment